Harianpost.co

AHMAD TRI MULYADI
Mahasiswa UIN RIL, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam
Semester IV

”MAKHLUK YANG MEMPERSATUKAN UMAT MANUSIA”
“Virus Corona”
(Dalam perspektif Agama dan Sains)

COVID-19 sudah menjadi pandemic, yang artinya virus ini menjadi masalah bukan hanya sebagian daerah bahkan seluruh dunia. Tentu saja ini menjadi cobaan bagi kita semua, untuk lebih memanusiakan manusia saling mengerti dan menghargai satu sama lain. Namun, sebelum kita menyatakan diri sebagai penyelamat dunia dengan cara paling mudah (Rebahan) dan menjadi makhluk no life (anti sosial). Kita harus mengetahui apasih sebenernya Virus Corona ini?

Virus Corona dan penyebarannya dalam perspektif Sains Hingga sekarang Peneliti masih mencari tahu asal mula penyebaran dari Virus ini, ada sebagian yang mengatakan bahwa virus ini berasal dari kelelawar yang dimakan oleh orang-orang di Wuhan, China. Adapula sebagian yang mengatakan bahwasannya virus ini merupakan Chimera atau kombinasi antara 2 virus (virus yang terdapat di trenggiling dan kelelawar). Pada dasarnya virus ini pertama kali muncul di Wuhan, China pada Desember 2019 di pusat perdagangan makanan-makanan unik China.

Menurut situs WHO, virus corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Pada manusia corona diketahui menyebabkan infeksi pernafasan mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan pada akhirnya WHO menyatakan virus ini sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Virus corona paling terbaru yang ditemukan adalah virus corona SARS-COV-2. Jadi sudah jelas bahwasannya Virus corona atau SARS-COV-2 merupakan nama dari virus yang menyebabkan penyakit COVID-19.

Menurut WHO, virus corona COVID-19 menyebar dari orang ke orang melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut yang menyebar ketika seseorang batuk atau menghembuskan nafas. Tetesan ini kemudian jatuh ke benda yang disentuh oleh orang lain. Orang tersebut kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. Berdasarkan studi yang ada saat ini belum ditemukan penyebaran COVID-19 melalui udara bebas. Jadi selama orang yang sakit menutup mulut dan hidung menggunakan masker dan tidak menyentuh area wajah tentu tidak ada jalan bagi virus ini untuk menyebar.

Namun, kita juga harus tetap waspada dengan fasilitas umum yang sering tersentuh, seperti gagang pintu, uang, pegangan pada bis, dan sebagainya. Karena virus ini kecil dan tidak terlihat maka sulit bagi kita untuk mengidentifikasi keberadaannya. Namun, apabila kita tidak menyentuh area bagian wajah setelah menyentuh sesuatu maka sedikit sekali kemungkinan virus ini akan menginfeksi kita.

Dilansir dari Worldometer, jumlah kasus virus corona di seluruh dunia telah mencapai 854.608 kasus. Dari jumlah tersebut, pasien yang sembuh tercatat sebanyak 176.908 orang. Sementara yang meninggal dunia sebanyak 42.043 orang. Dari jumlah ini mari kita menilik Negara dengan jumlah meninggal terbanyak yaitu Italia dengan jumlah kasus 105.792 dan dengan 12.428 jiwa meninggal dunia. Italia harus menguburkan jenazah Korban virus corona sekitar 700 jiwa dalam satu hari dengan prosedur penguburan korban pandemic yaitu dibungkus atau diisolasi tanpa mengeluarkan cairan dalam jenazah karena menghindari penyebaran virus. Italia yang memiliki peralatan kesehatan tercanggih di dunia tidak membuat pandemic virus corona balik arah. Setelah ditelusuri Hal ini disebabkan karena masyarakat Italia yang tidak mengindahkan himbauan dari pemerintah Italia yang mengajak masyarakatnya untuk memperhatikan dan turut serta mencegah penyebaran virus corona dengan menggunakan masker dan tetap berdiam diri di Rumah. Akibatnya banyak korban berjatuhan.

Dilema Indonesia. Italia seharusnya sudah menjadi contoh bagi kita masyarakat Indonesia, Negara dengan Peralatan Kesehatan tercanggih di dunia saja tidak mampu menangkal penyebaran virus ini. Namun anehnya ada saja orang-orang yang mengatakan bahwa orang Indonesia kebal terhadap virus corona. Tentu saja ini Hoax dan tidak boleh dipercaya, kenyataannya banyak warga kita yang juga terindikasi virus corona dan meninggal dunia, saat ini sudah ada 1.677 kasus dengan 157 jiwa meninggal dunia. Tentu saja angka kasus ini tidak akan bertambah jika masyarakat mengindahkan himbauan dari pemerintah seperti mengisolasi diri di Rumah (work from home), menggunakan masker, Memeriksa keadaan diri apabila merasa sakit, hingga rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun.

Namun himbauan dari pemerintah menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, terutama himbauan untuk tetap berada di rumah dan work from home. Banyak masyarakat terutama yang bukan pekerja kantoran seperti tukang ojek, pedagang, kurir, pekerja serabutan dan lain sebagainya menolak dan menghiraukan himbauan ini. Work From Home hanya ditujukan kepada orang kantoran dan jika mereka tetap di rumah tentu mereka tidak mendapat penghasilan, lain dari pegawai kantor yang mendapat upah bulanan dan bisa membawa pekerjaan kantor untuk dikerjakan di rumah, mereka mendapat upah dari apa yang mereka kerjakan sehari-hari yang mengharuskan mereka untuk keluar rumah. Apabila tidak bekerja sehari saja, maka hilang sudah uang makan sehari tidak bisa dibayangkan untuk mereka tetap berdiam diri di rumah selama 2 bulan ini ingin makan apa mereka dan keluarganya.

Kemudian melihat kepanikan warga yang ketakutan akan tertular COVID-19, banyak dari masyarakat yang mencuri kesempatan dengan mengambil keuntungan besardari kepanikan masyarakat. Banyak pedagang masker yang menimbun masker agar harganya melonjak tinggi, adapula pedagang yang menjual masker dengan harga hingga 10x lipat dari harga normal bahkan lebih, warga yang panic tentu tidak bias berfikir jernih sehingga membeli masker dengan harga fantastis tersebut tanpa menolak inilah yang dinamakan (Panic Buying). Bersyukur saat ini sudah banyak pedagang masker yang menimbun dan menjual dengan harga tidak wajar tersebut, namun saat ini masih banyak pedagang yang menjual dengan harga tak wajar di media social.

Islam dalam menghadapi wabah
Hadits tentang cara pencegahan wabah dari Riwayat Bukhari dan Muslim.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Di dalam Islam kita sudah diajarkan cara mengatasi wabah, Rasulullah sendiri mnganjurkan kita daerah kita yang terkena wabah maka janganlah keluar dari daerah kita, apabila daerah lain yang terkena wabah maka janganlah kita pergi ke daerah tersebut. Sejak 1500-an Tahun yang lalu Rasulullah sudah mengajarkan Umat Islam untuk Stay at Home apabila ada wabah yang melanda, tidak pergi kemanapun ketika ada wabah. Maka sudah seharusnya bagi Umat Islam mengaplikasikan Sabda Rasulullah sekarang dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Dan mengingat bahwasannya awal mula munculnya Pandemic virus corona adalah makanan-makanan yang tidak wajar seperti sup kelelawar dll. Jauh sebelum ini Islam sudah mengajarkan kita untuk memakan-makanan yang Halal dan baik :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ)

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” (Al-Mu’minun; 51). Dan Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.” (al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah SAW menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,” namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim).

Dari hadits tersebut kita mengetahui Rasulullah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang baik-baik dan mengerjakan yang baik. Perlu diketahui bahwasannya Islam mengatur hingga ke segi makanan kita, dan kelewar, babi, kucing dan lain sebagainya. Merupakan hewan yang diharamkan dalam Islam. Jadi bagi Orang yang menerapkan Islam dalam Kehidupan sehari-hari Insyaa Allah selalu berada dalam lindungan-NYA.

Melihat kedua hadits di atas, Islam mengarahkan kita untuk menuju peradaban yang aman dan sehat. Tidak ada ruginya apabila kita mempelajari sesuatu, apalagi jika mendalami hadits dan Islam kita akan senantiasa terlindungi oleh Islam itu sendiri dengan keimanan kita. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menghujat atau melontarkan ujaran kebencian. Tapi bagaimana kita menunjukan rasa kemanusiaan kita dengan saling bahu membahu untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, saling memberi semangat untuk keluar dari masalah ini bersama-sama, tidak mempertontonkan hal-hal mengerikan yang menghancurkan harapan hidup, saling mengingatkan tentang kebaikan demi memutus rantai penyebaran Pandemic COVID-19 dan yang terpenting tetap berdo’a kepada Tuhan agar masalah pandemic COVID-19 ini cepat berlalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here